luqman al hakim hidup pada zaman nabi
luqman al hakim hidup pada zaman nabi

Kisah Luqman Al-Hakim: Hidup Pada Zaman Nabi Siapa Sebenarnya?

Posted on

Pertanyaan tentang luqman al hakim hidup pada zaman nabi siapa sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan di kalangan para ulama maupun masyarakat umum. Namanya diabadikan langsung dalam Al-Qur’an , satu kehormatan yang tidak semua tokoh mendapatkannya. Tapi siapa dia? Dari mana asalnya? Dan apakah benar ia seorang nabi?

Banyak orang mengenal Luqman hanya dari nasihatnya kepada sang anak yang tertulis di Surah Luqman. Padahal di balik ayat-ayat itu, tersimpan biografi luqman al hakim yang jauh lebih kaya , penuh perdebatan sejarah, riwayat silsilah yang beragam, bahkan misteri usia yang konon mencapai seribu tahun.

Siapa Sebenarnya Luqman Al-Hakim?

Gelar “Al-Hakim” yang melekat pada namanya bukan sekadar hiasan. Itu artinya “yang dianugerahi hikmah” , dan hikmah di sini bukan sekadar kepandaian biasa. Dalam tradisi Islam, hikmah merujuk pada pemahaman mendalam tentang hakikat hidup, kemampuan membedakan yang benar dari yang salah, dan kecakapan menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyentuh.

Sejarah luqman al hakim sendiri tidak bisa dilepaskan dari perdebatan para ulama klasik. Menurut Ibnu Katsir, nama lengkapnya adalah Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun. Sementara Ibnu Abbas menyebutnya sebagai Luqman bin Baura’ atau Ba’ura’. Perbedaan ini wajar mengingat catatan sejarah lisan memang rentan variasi , terutama untuk tokoh yang hidup jauh sebelum era penulisan hadis sistematis.

Soal asal daerahnya pun tak kalah beragam. Ada yang menyebut Habsyi (Ethiopia), ada yang menunjuk Nubah (Sudan), ada pula yang merujuk Aylah di wilayah Palestina. Yang menarik, sebagian besar riwayat sepakat bahwa ia berkulit hitam pekat, berbibir tebal, bertubuh pendek, dengan hidung agak pesek. Gambaran fisik yang sama sekali jauh dari stereotip tokoh “bijak” versi sastra Barat.

Luqman Al-Hakim Hidup Pada Zaman Nabi Siapa?

Ini inti pertanyaannya. Dan jawabannya: mayoritas ulama menempatkan Luqman sebagai tokoh yang hidup sezaman dengan Nabi Daud AS. Bukan Nabi Muhammad SAW, bukan pula Nabi Isa AS.

Riwayat yang beredar menyebutkan bahwa Luqman sempat menjabat sebagai hakim (qadhi) sebelum masa kenabian Daud AS. Ketika risalah kenabian turun kepada Daud, Luqman kemudian merendah dan justru berguru kepadanya. Sebuah sikap yang , kalau dipikir-pikir , justru mencerminkan kedalaman hikmatnya. Orang yang benar-benar bijak tidak malu belajar dari siapa pun.

Ada pula pendapat yang menyebut ia hidup lebih awal, sezaman dengan Nabi Ayub AS, lalu berusia sangat panjang , ada yang menyebut hingga seribu tahun , sehingga akhirnya sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Daud. Tentu angka seribu tahun ini bukan hitungan kalender biasa; dalam tradisi hikayat lama, angka besar sering dipakai untuk menegaskan “waktu yang sangat lama.”

Mengenai hubungan luqman al hakim dan nabi daud, para ulama cukup bersepakat. Kedua tokoh ini bersinggungan secara langsung, bahkan Luqman disebut sempat mengambil pelajaran dari wahyu yang diturunkan kepada Daud.

Silsilah Luqman Al-Hakim: Keturunan Siapa?

Bicara soal silsilah luqman al hakim, ada beberapa versi yang beredar. Salah satu yang cukup terkenal menyebut garis keturunan luqman al hakim terhubung dengan keluarga Nabi Ayub AS , ia disebut sebagai anak dari saudara perempuan Nabi Ayub, atau dalam versi lain sebagai keponakan Nabi Ayub.

Versi lain yang lebih panjang dari Ensiklopedia Islam menyusun silsilahnya sebagai: Luqman ibnu Ba’ur ibnu Nahur ibnu Tarikh ibnu Azar , yang berarti masih masuk dalam lingkaran keturunan Nazar (ayah Nabi Ibrahim AS). Jika versi ini diterima, maka Luqman memiliki darah yang terhubung jauh ke pohon kenabian Ibrahim.

Namun perlu dicatat: tidak ada satu pun riwayat yang disepakati secara bulat. Para ulama sendiri berselisih pendapat, dan ketidakpastian ini bukan kelemahan , justru menunjukkan bahwa fokus Islam pada sosok Luqman bukan pada silsilahnya, melainkan pada keteladanannya.

Luqman Al-Hakim: Nabi atau Bukan?

Pertanyaan tentang luqman al hakim nabi atau bukan ini punya jawaban yang cukup tegas dari jumhur ulama. Mayoritas besar , termasuk Ibnu Abbas, Imam Nawawi, dan Ibnu Katsir , menegaskan bahwa Luqman bukan nabi. Ia adalah hamba saleh yang dianugerahi hikmah oleh Allah SWT, bukan seorang rasul yang menerima wahyu kenabian.

Dasarnya langsung dari Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman…” (QS. Luqman: 12). Allah menyebut hikmah, bukan nubuwwah. Ini pembeda yang signifikan dalam terminologi Islam.

Memang ada dua ulama , Ikrimah dan Asy-Sya’bi , yang berpendapat sebaliknya, bahwa Luqman adalah nabi. Tapi pendapat ini dianggap lemah dan tidak banyak diikuti. Fatwa Mufti Wilayah Malaysia pun secara resmi menempatkan Luqman sebagai wali yang saleh, bukan nabi.

Prof. Nasaruddin Umar, Imam Masjid Istiqlal Jakarta, juga menegaskan hal yang sama: Luqman adalah contoh manusia biasa yang bisa mencapai derajat tinggi di sisi Allah bukan karena kenabian, tapi karena ketulusan hati dan kebersihan akhlaknya.

Pekerjaan dan Keseharian Luqman

Menariknya, kisah luqman al hakim tidak menampilkan ia sebagai tokoh agung yang duduk di singgasana. Justru sebaliknya. Riwayat Ibnu Abbas menyebut ia bekerja sebagai tukang kayu. Riwayat lain menyebutnya sebagai pengembala kambing, penjahit, atau bahkan pencari kayu bakar.

Ada pelajaran tersembunyi di sini: hikmah sejati tidak lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari kesabaran menghadapi kesederhanaan hidup, dari kejujuran dalam pekerjaan sehari-hari yang tampak sepele. Luqman adalah bukti bahwa kebijaksanaan bisa tumbuh di mana saja , termasuk di tangan seorang tukang kayu berkulit hitam dari Afrika.

Karakternya digambarkan sebagai orang yang jarang bicara. Diam adalah pilihan, bukan ketidakmampuan. Ketika ia berbicara, kata-katanya terasa berat dan berbobot , bukan karena ia mencari perhatian, tapi karena setiap kalimat sudah dipikirkan matang-matang.

Kisah Terkenal: Naik Keledai Bersama Anak

Salah satu hikayat paling populer dari kisah luqman al hakim adalah ketika ia bepergian bersama anaknya dengan seekor keledai. Ketika anaknya yang naik, orang-orang berkomentar: “Anak tak tahu diri, bapak tua jalan kaki.” Ketika Luqman yang naik, orang lain bilang: “Bapak kejam, anak disuruh jalan.” Ketika keduanya naik, datanglah komentar soal kasihan keledainya. Ketika keduanya jalan, orang-orang malah tertawa melihat keledai tidak dipakai.

Dari situ Luqman menyimpulkan satu hal sederhana yang banyak orang gagal menghayatinya: kamu tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Yang penting adalah kamu tahu apa yang benar untuk dilakukan.

Nasihat Luqman kepada Anaknya dalam Al-Qur’an

Surah Luqman , surah ke-31 dalam Al-Qur’an, termasuk golongan Makkiyyah dan terdiri dari 34 ayat , memuat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya yang menjadi inti dari zaman hidup luqman al hakim yang terabadikan. Nasihat-nasihat ini begitu padat sehingga ulama tafsir bisa menulis berlembar-lembar penjelasan hanya untuk satu ayat.

Pesan pertama dan paling mendasar: jangan sekali-kali menyekutukan Allah. “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar” (QS. Luqman: 13). Luqman tidak memulai dengan hukum fikih atau aturan sosial , ia langsung menyentuh soal tauhid, fondasi dari segala fondasi.

Berikutnya, ia memerintahkan shalat dan amar ma’ruf nahi mungkar , dengan tambahan pesan untuk bersabar. Karena ia tahu, orang yang mau mengajak kebaikan pasti akan menghadapi penolakan.

Ada juga peringatan tentang kesombongan: “Jangan berjalan di bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18). Dan nasihat soal suara: “Seburuk-buruk suara ialah suara keledai” , sebuah sindiran halus untuk mereka yang bicara keras tanpa isi.

Nabi Sulaiman dan Luqman Al-Hakim: Ada Hubungannya?

Pertanyaan soal nabi sulaiman dan luqman al hakim kadang muncul karena keduanya diasosiasikan dengan kebijaksanaan. Tapi perlu diluruskan: tidak ada riwayat sahih yang secara langsung menghubungkan Luqman dengan Nabi Sulaiman AS.

Kalaupun ada kemiripan, itu lebih karena keduanya hidup dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh , Nabi Daud dan Nabi Sulaiman adalah ayah-anak, sementara Luqman sezaman dengan Nabi Daud. Secara logis, mungkin saja Luqman yang berusia panjang sempat melewati masa awal kenabian Sulaiman. Tapi itu hanya spekulasi, tidak ada dalil kuat yang mendukungnya.

Fokus riwayat tetap pada hubungan Luqman dengan Nabi Daud AS , dan itu sudah cukup untuk menggambarkan betapa sentralnya posisi Luqman dalam sejarah kenabian.

Warisan Luqman yang Melampaui Zaman

Jika ditarik benang merahnya, luqman al hakim hidup pada zaman nabi Daud AS sebagai sosok hamba biasa yang mendapat tempat luar biasa , bukan karena ia raja, bukan karena ia kaya, bukan pula karena ia nabi. Melainkan karena ia bersyukur, bijak, dan tulus dalam mendidik.

Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kemuliaan tidak harus datang dari nasab yang tinggi atau jabatan yang megah. Seorang tukang kayu berkulit hitam dari Afrika pun bisa diabadikan namanya dalam kitab suci , kalau ia menjalani hidupnya dengan hikmah dan ketulusan yang sungguh-sungguh.

Itulah yang membuat biografi luqman al hakim tetap relevan sampai hari ini. Nasihat-nasihatnya bukan cuma berlaku untuk anak-anak di masa itu , tapi untuk siapa pun yang masih mau mendengarkan suara kebijaksanaan yang sederhana namun dalam.

Sumber Referensi

  • Ensiklopedia Islam: “Luqman Al-Hakim”
  • Fatwa Mufti Wilayah Malaysia: “Adakah Luqman Al-Hakim Seorang Nabi?”
  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah
  • Detik.com: “Luqman Al Hakim Hidup di Zaman Nabi Siapa?”
  • Kompas: “Biografi Luqman Al Hakim”
  • Wikipedia Indonesia: “Luqman”
  • Al-Qur’an Surah Luqman (31): 12–19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *